Jumat, 09 Juni 2023

Ibnu Batuttah - and Why You (Must) Travel

Jadi dulu, nama kelas saya waktu SD adalah "Kelas 5 Ibnu Batutah". Karena kegigihan kedua orang tua saya yang memiliki visi anaknya paham agama, maka di kelas 4 SD, saya pindah ke sekolah Islam. Dulu ayah-ibu saya tanya, "Kamu mau pindah sekolah nggak?". Sekolahannya masih baru, muridnya cuma 8 orang. Saya yang nggak mengerti apa-apa dan dulu kelas 3 SD yang hobi dan cita-citanya jadi penyayi qosidah bilang "Iya" dengan semangat. 

Ibnu Batuttah? Siapa itu? Dulu guru saya bilang, beliau adalah ahli geografi dan pengelana dari peradaban Islam yang menuliskan dalam kitab perjalanannya, nama pulau tempat kita tinggali sekarang "Sumaterah". Beliau sampai pada abad ke-13 di Kerajaan Samudera Pasai. Dulu, jujur saya nggak tahu kalau istilah bekennya Ibnu Batuttah adalah "Travel blogger" kalau kata anak generasi Z sekarang. 

Jujur saya nggak tahu kalau beliau adalah orang Moroko dan sebenarnya adalah berber (bukan Arab). Kayaknya ini distorsi ya, karena sejak dulu yang kita tahu kalau orang yang "berbahasa arab atau muslim yang datang ke Indonesia" ya "suku arab" padahal bukan. Sejak pulang dari Maroko sampai sekarang, saya banyak baca biografi beliau dan juga baca buku Al-Rihlah yang sudah diterjemahkan (walaupun masih sepotong-sepotong). 

Jujur, saya terkesima dengan judulnya. Judul aslinya ya bukan "Al-Rihlah" saja.. yang artinya travelling. Tetapi judul asli lengkapnya adalah: Tuhfat al-anzar fi gharaaib al-amsar wa ajaaib al-asfar (A gift to those who contemplate the wonders of cities and the marvels of traveling). Merinding banget baca judulnya. 

Tapi ditulisan ini saya nggak mau bahas Ibnu Batuttah, saya mau bahas hikmah kenapa Allah menyuruh kita berkelana dan berjalan-jalan dimuka bumi (termasuk Haji - bila mampu). Disini saya merasa cukup merinding, karena di buku Al-Rihlah tersebut perjalanan Ibnu Batuttah dimulai ketika beliau mau naik haji. Beliau mau naik haji, jadi beliau pergilah berjalan ke arah Jeddah. Disitulah perjalanan beliau dimulai. 

Allah sendiri berfirman : "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Al 'Ankabut ayat 20).

Banyak banget surat dan ayat dengan "Berjalanlah di (muka) bumi..".

Nggak tahu kenapa saya menjadi flashback dengan stempel paspor pertama saya untuk hidup di Malaysia 1,5 bulan. Saya ingat Abi membantu merapikan tas saya dan menginspeksi apa yang harus dibawa dan tidak, dan apa yang harus disiapkan diimigrasi, semuanya detail. Bapak saya juga membelikan saya payung warna kuning gonjreng di warung dekat kosan - yang juga saya bawa ke Eropa tapi hancur dan patah di Rotterdam 8 tahun kemudian.

Bapak saya bilang, "Abi ajarkan skillnya ya.. nanti harus bisa sendiri,". Menurut bapak saya, travelling adalah skill dan anak-anaknya harus bisa, karena merupakan bagian dari "Berjalan dan mencari hikmah di(muka) bumi". Bapak saya ikut dengan saya sampai satu minggu, kemudian pulang. 

Dua tahun kemudian, tibalah saat saya harus ke negara muslim minoritas pertama, dimana kita harus apply visa. Skill baru - pengalaman baru. Pertama kali merasakan susahnya sholat dan tanya sana-sini dimana bisa sholat, semua dibawah komando bapak saya. Saya ingat waktu itu di Bandara Hongkong menuju Indonesia - mungkin Bapak saya sudah nggak ingat, beliau bilang "Sudah bisa ya Rima, sudah lulus.

Dengan bekal 'contoh' yang sudah diberikan - dan segenggam kepercayaan - bapak saya merasa saya sudah lulus.

Bapak saya yang sudah pergi kemana-mana dan "Rihlah" sendiri dari tahun 90-an memberikan saya contoh bahwa, seluruh jalanan yang dipijak ini bumi Allah dan dimanapun kita prioritas kita adalah persiapan kembali. Saya baru sadar bahwa.. Bapak saya adalah Ibnu Batuttah-nya saya (tanpa travelogue) - beliau memberikan contoh bahwa -- dalam perjalanan di episode-episode tempat-tempat perjalanan yang sunyi sekalipun kita bisa memprioritaskan iman dan Allah tidak pernah membuatnya sulit. 

"yang membuat sulit adalah ketika kita tidak berilmu". Begitu senyap bisikannya. 

Bapak saya mungkin tidak pernah memaksa belajar fiqih, tetapi beliau membawa berkardus-kardus buku dan membacanya tepat di depan muka saya. Buku-buku yang kadang dibawanya dari Jogja -- dari toko loak itu berserakan diruang tamu kadang. Dengan senyap sayapun membaca buku-buku tersebut, mempelajarinya pelan-pelan.

Memang seringkali, tindakan memang lebih mengena dari bisik manapun.

Berjalan-jalan dimuka bumi, sungguh luar biasa cobaannya. Sayapun kadang ketakutan luar biasa. Diatas unta saya menghabiskan hafalan saya yang hanya sedikit karena saya takut untanya akan melemparkan saya. Punggung saya rasanya mau patah, kemudian saya berdoa "Ya Allah hamba-Mu sedang kesakitan, tolong mudahkan hamba," Setelah surat Nuh -- surat andalan saya supaya sabar - unta yang saya namai Siti itu berjalan dengan lebih santai sehingga hentakannya berkurang. 

Jalan-jalan di Maroko - banyak cobaannya. Banyak juga hikmahnya. Disetiap negara yang saya lewati, banyak sekali ilmunya - - terutama ilmu kehidupan. Bener Allah bilang untuk "Berjalan-jalan dimuka bumi". Mungkin itu juga sebabnya Allah menyuruh kita haji dan umroh. Kita "Bergerak" dari zona nyaman kita, kita bertemu muslim yang lain, bertemu beranekaragam orang yang kita bisa belajar dari mereka - selain itu kita belajar untuk melepaskan apa yang kita punya, apa yang kita ketahui dan berserah dengan Allah.  

Maroko adalah negara ke-27 saya, tetapi adalah negara ke-3 mayoritas muslim yang saya datangi. Dari perjalanan ke Maroko kemarin dan "Al-Rihlah"nya Ibnu batutah, sepertinya semua perjalanan saya - ada atau nggak ada yang baca harus ditulis. Saat ini saya sedang mengumpulkan folder kota-kota yang pernah saya datangi A-Z. Walaupun saya mungkin lupa karena nggak punya travelog (bahkan sebagian saya nggak pernah post juga karena saya nge-post suka-suka saya). Tapi setidaknya harusnya itu bisa jadi pengingat - untuk diri saya sendiri ketika saya sudah tua. 


July 2023 Marrakech-Merzouga-Fez


Sabtu, 15 April 2023

Ramadhan 2023 Reflection - Apa kata Allah tentang Kulit // Kenapa Neraka itu Siksanya Dibakar?

Haii, kembali lagi di episode ovethinking bersama saya.. (lu bisa bayangin gua ngomong gitu ga wakakak). Sebenernya gua udah overthingking ini cukup lama sih, dan iya gua akan bawa kalian bersama dengan penemuan cocokologi detektif Conan gua. 

Kali ini, kita akan belajar tentang bagaimana Allah itu Maha Tau tentang desain manusia..

Kenapa Neraka itu Dibakar?

Pernah ngga kalian berfikir, "Kenapa sih Neraka itu disiksanya dibakar, bukan dibekuin?" Kan sama-sama menderita, sama-sama mati juga. Mungkin kalian gak kepikiran. Iya dulu saya juga begitu kok. Sampai kemudian sampailah saya pada pelajaran anatomi fisiologi kulit dibagian persyarafan kulit.

Jadi di dalam kelas, saya belajar persyarafan kulit termasuk reseptor-reseptornya. 

Manusia memiliki reseptor panas yang juga sekaligus reseptor sakit yang paling utama bernama TRPV1. Nah, kalau kalian ngikutin Nobel Laurate, tahun lalu penemuannya tentang penggunakan zat dari cabe bernama Capcaisin untuk mengetahui mekanisme dari Channel TRPV ini.

Lebih mudahnya lagi.. kalian kalau makan cabe pedes kan.. ada rasa panas, ada rasa sakit juga (kayak numb gitu), dikarenakan reseptor yang distimulasi sama. Jadi panas, dan rasa sakit itu bisa distimulasi dengan satu reseptor ini. Jadi dunia dermatology saat ini sedang mencoba untuk mengeksplotasi reseptor ini untuk mencegah rasa sakit guys..



Oke guys, jadi disini kita paham ya.. kenapa neraka itu dibakar.. ternyata pain and heat alias rasa sakit dan panas itu reseptornya sama, jadi manusia akan lebih tersiksa ketika dibakar, bukan dengan metode lain... pada saat belajar itu, saya betul-betul kaget...

"Siksa neraka bagi orang-orang yang kufur saat di dunia kelak akan dibuatkan pakaian dari api neraka, kemudian kepala mereka disiram dengan air mendidih yang menghancurkan isi perut dan kulit mereka." (Al-Hajj Ayat 19-22)

Manusia Tanpa Kulit, Tidak Bisa Merasakan Sakit

Taukah kalian, ada sebuah fakta yang sangat menarik lagi.. bahwasanya manusia itu tanpa kulit dan reseptornya tidak bisa merasakan rasa sakit. *Tet tet terettt*

Hal ini sangat bersesuaian dengan ayat Allah sebagai berikut: 

“Sesungguhnya, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (QS. An-Nisa: 56).

Disini ada pernyataan "Diganti dengan kulit yang lain". Yang berarti, ketika yang diazab oleh Allah sudah hancur, maka manusia akan ditumbuhkan lagi kulitnya, karena kalau tidak maka tidak ada rasa sakit lagi... merinding gak sih.. 

Beberapa ahli tafsir menjelaskan bahwa, penggantian kulit ini artinya kulit akan ditumbuhkan dan dikembalikan secara sempurna, sebelum kemudian disiksa lagi. Kemudian dihancurkan dan ditumbuhkan.

Sains modern yang bisa tau kalau memang hakikatnya "kulit" ada persyarafan dan reseptor yang penting untuk rasa sakit. Tapi Allah yang mendesain manusia, jadi Allah lebih tahu, dan demikian pula yang ditulis di Al-Quran. Another Eurica moment.

Firing Rate Panas vs Dingin Thermoreseptor yang Berbeda

Ada satu konsep lagi yang penting tapi kayaknya saya bakalan susah jelasinnya. Jadi guys, firing rate antara thermoreseptor panas dan dingin itu beda. Jadi singkatnya ketika reseptor kita menerima stimulus panas, maka kemudian akan disampaikan ke otak (thalamus). Kalau panas, maka impuls ke otak perdetik ketika sudah lewat treshold panas akan naik, dan sinyal akan diberikan terus menerus. Intinya impuls (stimulasi) seperti menjerit-jerit "Panass panass" akan dilakukan terus-menerus. Sedangkan kalau dingin, stimulusnya akan cenderung sampai puncak kemudian turun. Jadi ini alasan kenapa kalau dibakar, atau disiksa dengan api itu jauh lebih sakit dibandingkan dengan dibekukan. 



Kenapa siksaan paling ringan pakai sepatu api?

"Penduduk neraka paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, dia memakai dua sandal (dari neraka)" (HR Muslim). 

Kenapa sendal api ini adalah siksaan teringan? Sedangkan siksaan reguler adalah dengan pakaian panas (Al-Hajj Ayat 19-22). Karena di kaki ada layer tebal bernama "Stratum Lucidum", yang dia adalah keratnocyte tebal yang mati. Sedangkan badan kita ini adalah korneocytes reguler. Ya Allah naudzubillah ngetiknya sambil merinding guys.

Kayaknya cukup dulu tulisan kali ini. Rasanya sedih karena sehari-hari kita banyak dosa. Semoga Ramadhan kali ini bisa jadi penggugur dosa-dosa kita. Semoga tujuan hidup kita tetap dimaknai untuk mencari Ridho Allah saja, apapun yang kita lakukan, apapun yang kita usahakan. 

Semoga Allah tetap jaga iman kita, karena iman yang paling mahal dan bisa dicabut kapan saja. Semoga Allah memberikan kita ending bukan sembarang ending.. tapi yang terbaik yaitu khusnul khotimah.

Selamat berpuasa semuanya,
selamat menikmati hari-hari terakhir puasa. 





Selasa, 11 April 2023

Ramadhan 2023 Reflection - Puasa, Pembersihan Diri dan Autophagy

Puasa sejatinya menyimpan banyak manfaat. Baik yang kita tahu, maupun yang kita tidak tahu sama sekali. Puasa tahun ini memberikan makna yang cukup dalam buat gua karena beberapa bulan sebelumnya di mata kuliah dermatologi molekuler ada salah satu dosen yang mengajarkan konsep menarik bahwa puasa dpat membersihkan "sel-sel" dengan cara autophagy melalui pengendalian mTOR pathaway.

Di dalam kelas pada saat itu kalo aja gua hidup di dunia kartun dibelakang gua kayak ada gambar petir detektif conan. Gua mengalami "Eurica moment" itu sekali lagi. 

Kita sering dengar bahwa salah satu ibrah atau manfaat yang bisa kita petik dari berpuasa adalah Tazkiyatun Nafs atau pembersihan jiwa. Mengaitkan dengan konsep kesehatan dalam Islam (yang gua imani ya - mirip lah sama yang sering dibawain Dokter Zaidul Akbar), bahwa pada dasarnya kesehatan tubuh dan mental itu saling berkaitan.

Ternyata "Pembersihan" pada saat puasa itu bukan cuma jiwa guys! Tapi sel-sel juga! Amazing! Mungkin ini juga sebabnya kita di encourage buat puasa senin-kamis dan juga puasa tengah bulan (ayamul bidh), ternyata puasa ini betul-betul masyaAllah masih menyimpan misteri dari sisi sains.. dari sisi biologi molekuler. 

yang aku tulis diblog ini adalah salah satu "hikmah" ya guys. Tapi tujuan dan niat puasa tentu saja sesuai yang Allah bilang, puasa itu untuk Allah supaya kita bertakwa.

Konsep "Autophagy", "AMPK" dan MTOR

Jadi dosen gua namanya Prof. Vicente Michol.. (beliau juga bos di grup tempat gua kerja sekarang). Jadi beliau mengajarkan konsep "Autophagy", "AMPK" dan MTOR. Apa itu dan apa hubungannya sama puasa? Bentar ya, akan gua jelaskan pelan-pelan, semoga bisa dicerna. 

Mungkin flashback dulu kenapa beliau ngajar ini dikelas gua (semoga gua bisa menulis ini dengan ringan). Seperti kita ketahui kalau banyak penyakit di kulit yang ada hubungannya dengan ketidaksetimbangan pada saat regenerasi dan diferensiasi sel-sel kulit. Misalnya atopic dermatitis, psoriasis. Seperti kita tahu kalau sel-sel kulit itu selalu regenerasi terus-menerus. Tetapi dalam "regenerasi"nya ini harus seimbang, kalau engga maka akan menjadi sel-sel immature dan akan menimbulkan berbagai macam penyakit utama disebabkan ketidak sempurnaan "skin barrier".

Beberapa penyakit kulit menunjukkan bahwa sel-sel tersebut regenerasi terus tanpa mengalami maturasi. 

Secara umum dalam regenerasi sel-sel tubuh dan metabolisme sel ada satu protein kinase yang mengatur dan sangat penting yaitu yang disebut mTOR (lebih spesifik lagi mTORC2), dengan jalur prosesnya disebut mTOR pathaway. 

Apakah mTOR C2 ini jahat? Tentu tidak. mTOR sangat penting untuk regulasi metabolisme pada sel-sel tubuh, dia mengatur sintesis protein, proliderasi sel dan metabolisme. 

Tetapi (ada tapinya), ketika mTOR ini aktif terus-menerus maka sel-sel tubuh akan kehilangan kemampuan membersihkan diri sendiri yang disebut "autophagy". Pada sel-sel yang muda, maka mTOR akan sangat baik karena meningkatkan produksi energi, sintesis protein dan otot. Tetapi pada sel-sel yang mature dan aging, maka "autophagy" sangat dibutuhkan.

Terus apa hubungannya dengan puasa? Ternyata salah satu cara untuk menekan mTOR C2 adalah dengan berpuasa. Belum ada penelitian (tentu aja ga ada), apakah puasa ramadhan bisa menekan mTOR C2, tetapi secara umum dari penelitian yang ada puasa bisa menekan mTOR dan meningkatkan master energy sensor cells yang disebut dengan AMPK. 

AMPK ini jika teraktivasi masyaAllah bisa menekan sintesis kolesterol, menekan lipogenesis (terbentuknya lipid baru), menurunkan sintesis glikogen, meningkatkan transport glukosa, meningkatkan lipolisis, dan yang terpenting meningkatkan autophagy.

Kenapa autophagy ini penting.. karena sel dalam bekerja juga banyak salahnya.. maka komponen-komponen yang tidak betul, rusak, kelebihan dan bisa merusak sel harus dibuang dari sel. 

Akibat dari mTOR yang terlalu berlebihan berasosiasi dengan penyakit kanker, autoimmune, diabetes, obesitas, alzheimer. Jadi mTOR yang berlebihan ini sangat tidak baik. 

Saat ini di pengetahuan sains yang terbatas ada 2 yang bisa menekan mTOR, nomor satu puasa. Nomor dua adalah olahraga, 


Manusia dan Overeating

Gua merinding banget jujur pas belajar ini dikelas (karena gua tau pathawaynya lebih detail dan sebegitu kompleksnya desain manusia). Seolah-olah perintah puasa dan regulasi mTOR ini menunjukkan kekuasaan Allah ... bahwasanya Allah sudah jauh lebih tau kalau manusia jaman sekarang akan terjadi fenomena over-eating. Allah sempurnakan Islam, sesuai dengan manusia pada zaman tersebut. Satu, demi satu, kita jadi tahu "Oh, ternyata karena itu?" (dengan penemuan dan otak manusia yang terbatas ini).

Manusia jaman dulu, mau makan susah.. harus berburu. Pada dasarnya manusia memang ga didesain buat kebanyakan makan.. dari grand-designnya gitu. Tapi karena nafsunya lebih maju, dan juga kehidupan bergerak terus, maka apa-apa jadi gampang.. Ada refined sugar, ada go food, ada junk food, process food... kita tuh kebanyakan makan guys.. mTOR ngga berhenti! makanya banyak banget orang pada kena kanker :<

Ramadhan ini juga jadi ajang untuk "nge-rem" kalau kita betul-betul mengikuti apa yang diperintahkan Allah (jadi pas buka puasa ga berlebihan). Sahur secukupnya, berbuka secukupnya. Jadi biar sel-sel kita ikut "membersihkan diri".

Jangan lupa juga ditop-up dengan puasa senin kamis dan ayamul bidhnya. Satu hal yang aku bener-bener terpatri adalah "jangan kebanyakan makan", dan makan harus sehat... karena kita adalah apa yang kita makan.


Segitu dulu Reflection kali ini.

Selamat berpuasa~

Minggu, 09 April 2023

Ramadhan 2023 Reflection - Ilmu sebelum Amal, Beramal yang Berakal

Dari kemaren gua bikin kue lebaran untuk dibagi-bagi ke temen lab, sambil marathon Habib Ja'far di Youtubenya Om Dedy Cobuzer. Ber-episode-episode, loyang demi loyang. 

Nonton Habib Ja'far itu berasa lagi nostalgia. Kenapa? Karena secara ga langsung, gua dibesarin dengan cara yang mirip dengan beliau dalam beragama, dan ngga tau kenapa, gua pengen aja nulis ini sekaligus mungkin menjawab pertanyaan "Lu anak ustad ya?" dan kenapa gua kalo ngeladenin atheis nanya ini-itu sampe berjam-jam seneng-seneng aja. 

Sedikit flashback, gua dibesarkan dari orang tua yang beranggapan bahwa tujuan nikah itu sejatinya adalah menyempurnakan agama, gak ada yang lain. Jadi, investasi terbesar orang tua ke gua, adalah mendidik agama. Apakah gua dari keturunan kiyai, habib atau ustad? boro-boro. Gua keturunan jengis khan bro. Mungkin ditulisan gua sebelumnya gua cerita sedikit tentang kakek gua, iya jadi jawabannya gua bukan keturunan ustad manapun. 

Tapi seperti halnya ayat pertama yang Allah turunkan itu "Iqra" alias "Bacalah". Maka dengan ketekunan dan semangat yang kuat ayah-ibu gua belajar Islam kesana-kemari. Mereka bener-bener investasi gaes. Gua inget banget dulu sebulan sekali ayah gua selalu borong buku-buku fiqih, subscribe majalah islam (dan majalahnya banyak banget), bahkan beli buku fiqihnya dari luar kota. Tahun 2000-an dulu pas gua masih piyik, ayah gua bisa menghabiskan uang 500,000 buat beli buku-buku agama.

Pas gua kecil, gua dipindah sekolah karena ayah gua mau anak-anaknya jadi penghafal Quran. Dulu SPPnya mahal banget dan satu kelas cuma 10 orang, karena sekolahan eksklusif. 

Pas SD disaat anak kecil lain les gambar .. gua "dipaksa" les kaligrafi (walaupun gua juara sih LOL), tapi namanya anak kecil suka anget-angetan. Ibu gua selalu ngingetin buat dateng les dan tekun.

Pas SD juga gua digeret buat les ngaji dan bahasa arab walaupun tiap les ngaji gua nangis-nangis karena susah (alhamdulillah pas gede udah bisa ngaji). Dan lu bayangin itu lesnya kadang campur sama ibu-ibu. Gua nangis terus ibu gua bodo amat "anak gua harus bisa ngaji yang betul". Pas gua kuliah gua ikut les tahsin ulang ternyata investasi geret-geret gua pas kecil ini cukup berhasil karena makhrajnya sudah betul semua. Disitu kadang gua kayak ada "Eurika" moment, dimana investasi ayah-ibu gua menurut gua berhasil.

Gua selalu tumbuh dilingkungan yang haus ilmu. Apalagi ilmu agama. Cari ilmu gaboleh cuma disatu sumber, cari-cari-cari. baca-baca-baca. Itu yang gua lihat dicontohkan dari ibu bapak gua (makanya kita ga ada aliran tertentu karena kita belajar semua). Gua pas kuliah pernah lho guys ikut kajian mbak-mbak bercadar semua dimana gua kek "dihakimi" gitu karena gua pake baju pink gonjreng. Tapi lu tau gua, dan gua udah punya banyak pengalaman "mencari ilmu", buat gua kayak pendapat dia ga ada hubungannya sama gua. Gua kesini mau cari ilmu. Segitu gilanya foundation dari rumah (walaupun kadang agak bahaya sih, kapan-kapan kita ceritain episode gua mau direkrut aliran-aliran aneh).


Lanjut soal Habib Ja'far,

Satu hal yang menurut gua yang nostalgic banget adalah ketika Habib Ja'far muncul sebagai fenomena muslim yang belajar filsafat dan agama lain. Ini mirip yang gua alami ketika tumbuh. Gua inget banget sejak kecil, orang tua selain mengedpankan ilmu sebelum amal, juga dalam beramal harus berakal.

Seperti halnya Allah bilang bahwa Islam bukan agama nenek moyang, dan hidayah akan datang bagi orang-orang yang berfikir. 

Orang tua gua justru meng-encourage gua buat mencari tau agama lain. Misalnya dari kelas 3 SD gua udah ga masalah nonton debat terbuka antar agama (yang isinya diskusi-diskusi gitu). Disitu orang tua gua ada bersama gua. Kita nonton bareng-bareng, dan di rumah gua juga ada buku-buku tentang agama lain, gua bebas baca dan ya.. gua baca. Disini semuanya adalah pembelajaran. Kalau orang lain mungkin dianggap "Nih keluarga udah gila". 

Bahkan dari kecil, gua mikir, "Kenapa gua muslim ya? Diluar sana orang selain Islam ibadahnya gimana ya?" "Sejarahnya gimana ya?". Gua berfikir dan belajar. Cari dan mencari. Ga ada yang namanya alergi dengan agama lain, ga ada. 

Ini mirip dengan keluarga habib ja'far, cuma bedanya bapak gua ga minta gua jadi pendakwah


I moved countries, everything fit into its pit

Jadi guys, sebelum pindah ke Eropa gua udah ngicip pergi kesana-sini. Tapi berhubung gua berkunjung bukan tinggal, jadi beda cerita. Kepindahan gua ke Eropa ini menurut gua membuat apa-apa yang udah diinvestasikan orang tua gua ketika kecil -alias agama, "Fit into its pit" alias kalo potongan puzzlenya berantakan, sekarang semua ada pada tempatnya.

Karena orang tua selalu membiasakan : Ilmu sebelum Amal, Beramal yang Berakal. Maka logika berfikir gua dalam frame-work agama cukup kuat menghadapi gempuran-gempuran tempation yang ada. 

Banyak orang pindah negara, mulai kehilangan nikmat iman satu-satu. Apalagi menghadapi gempuran pertanyaan dan lifestyle orang-orang disini yang kebanyakan atheis, kalau landasan ilmu dan akalnya ngga kuat maka luntur sudah. Biasanya dimulai dengan satu hal, kemudian yang lainnya akan ngikut.  


Berjam-jam menghadapi atheis

Gua pernah ngeladenin temen gua yang bimbang akan agama, kita diskusi sampe 5 jam di restoran. Sampe kayaknya mau diusir. Alhamdulillahnya semua yang dia tanya bisa gua jawab, sampe kita berhenti karena dia "agak takut, dia bakal masuk Islam". LOL. Gua ngerasa dia dalam hatinya sudah mengakui kalau yang gua sampaikan itu masuk akal. Setiap kali diskusi agama, dia selalu curi-curi pandang ke gua. 

Gua pernah nanya ke dia, "Lu pernah ngga belajar agama lain?" Dia jujur kaget. Gua bilang kedia, "Gua jadi muslim karena gua yang pilih, bukan karena orang tua gua, gua udah mengalami fase pencarian itu". Dia kaget se-kaget kagetnya. 


Jujur gua bener-bener berhutang sama orang tua gua, yang dulu geret-geret gua sampe nangis-nangis supaya gua bisa ngaji yang bener. Menurut gua, investasi yang sebenar-benarnya buat anak adalah investasi agama. Gimana dia tau cara "mencari", gimana dia berilmu sebelum beramal, dan beramal juga dengan akal. Gimana dia bisa menggenggam iman itu sebaik mungkin, ketika dunia itu jadi asing, karena dia tau tujuan hidup ini apa. 

Gua cukup beruntung karena ayah-ibu gua mendidik gua seperti itu. Tapi buat siapapun yang ga seberuntung gua, ga pernah telat untuk mulai dari awal. Inget Allah bilang "Iqra" (Baca!), gimana mau beramal yang betul tanpa ilmu. Secara fitrahnya logika kita akan sampai juga kok pada islam. 

Maka Ilmu sebelum Amal, Beramal yang Berakal


Selamat puasa semuanya





Ramadhan 2023 Very First Solo Trip

It is very hard to pass ramadhan without ton of tears. I decided to write random thing so I can remember. It is a month when you missed your friend and family the most. 

I think last year Ramadahan in Novara, was quite hard. I remembered that I did not eat very well, I fast for 17 hour after hitting winter depression where I lost ton of weight. I became very-very thin and I feel ill whenever I eat. Winter was very hard time for me.  

This ramadhan, well its a different story. This ramadhan, is my first solo trip ever in my life where I will be entirely fasting and breakfasting alone for the whole month.

But, what is the point of this world without experiencing everything in the first hand?

In 2014, I experienced my first full ramadhan and Idul Fitri Celebration without family, when I was in Malaysia. I remembered I did not cry that time. It was full adventure where the first time I throw the fire-Smokey fireworks which was very loud in the middle of Malaysian neighborhood. I was hosted by a family there, and also got pocket money from stranger's parents. 

When I came back home, then my sister left for her PHD in Japan. Later that we knew, 9  years later - ever since, our Idul Fitri Celebration will never be complete with 5 of us.

Live is strange isn't it?

I stopped experiencing mudik when I enrolled in Gadjah Mada University as student. I stopped. Why? Because my parent's parent was living in Java. I waited until the last week of Ramadhan - alone in the boarding house, or went to my grandmother house when everyone else was already leaving until my parents come, then we go to Malang together. 

But I did not know when I will go to Malang anymore, because grandpa was passed away when I was in Spain. I remembered my last conversation with grandpa was when he was asking, "So you are working with Chinese right?" "Chinese is very hard working,". He smiled, and started to tell his tale all over again. He always ask the same thing. I can see from the corner of his eye that he was so proud of having this blood, he said "You have this blood, you should work hard too" implicitly. 

My grandpa, he was part of Late Navy Army with small figure, non-existence eye and pale skin. Very pale. He lived in Malang, but he could not speak Javanese. He was not Javanese. He talked to us in Bahasa with eastern Indonesian accent. Later that we knew, he was mixed.  

When I grew up, I have identity crisis. We moved a lot, and I did not realize that I was a third generation of "something".  All I knew, I was Javanese, coming from I was born in Malang. But coming as minority I was bullied even by the teacher, I will never forget the bully "Javanese is always apologize even we stepped their feet, so we should stepped on their feet" - one of my bahasa teacher told us that in the class. Phenotypically speaking, I looked like Sumateran, so I just hide myself as Javanese and quenched my teeth. 

Socially speaking, being different was very complicated.

My grandpa, was a very nice guy and he passed us down this selfish gene which always makes me wonder, "what I am", which stick to the rest of my life. But a lot of people said that "You were lucky you were mixed, mixed was high quality gene". They would not experienced bully like I do, if they do they would not say so.

Comeback to my Ramadhan Malaysian experience, the "bully" also happened to me there. Because I look like Chinese.

"You can't eat here, no Chinese" said Aunty Warung to us. "No Aunty, Indonesian". "No fake, no chinese here" they kick us out. I was hurt, of course. I was very young. I did not expect that wherever I go, I will experience this. Malaysia has very complicated love-hate between race, I should see it coming. 

Live is strange isn't it?

When Islam basically teaches us to be kind and acceptance, but why we do this to us? Why? I could not pick my parents nor my looks. Why? I was wondering. It take ages to accept yourself when people rejects you, but the question "Where do you come from? You did not look like Javanese? Are you a convert? (Mualaf)" Scared me the most. 

But, by this experienced. I understand logically why as muslim women we need to wear hijab. Without hijab, I was a regular Chinese girl you can see on the street, no one will ever identify me as muslim, ever without my hijab. Hijab means identity as muslim women. Hijab would not protect you, but gives you the sense of identity - and consciousness to follow the saying.

This Ramadhan, is my first Solo trip, I was the only Muslim in the entire institute. As I trained to be "strange" and "different" by Allah since I was born. This whole thing feels like a fate. As I used to be different, when I saw Salmon documentary that swam against the streamline I was thinking "oo probably it was me" - that was me patting myself when I was a kid.   

Today is the 18th days of Ramadhan, entirely solo trip. (Well) not entirely, because Allah is with me. 

But, honestly I realized that it was not really bad. You can focus on yourself and not being busy bukber sana-sini. I shut my instagram down, I read books, I work, I baked cookies and created mini parcel for people at work, I did a lot of stuff. 


Live is strange isn't it? and it will continue to do so. 

This world, is entirely lonely journey afterwards. 

Let's rest well later, in here after.  

Kamis, 23 Februari 2023

Minimalism: The Art of Owning Less - Moving Across Europe

I carried one 30kg bags to Europe, one small carry on bag and a backpack to Europe.

Is it enough? to be honest with you It is more than enough. During my period of stays, of course. I bought some stuff with me. 

Like clothes, home appliances, etc. 

But as minimalist, if you buy something, you have to let something go. 

Otherwise, you need to clutter de-clutter something all over again which is just adding stress to your life. 

I realize this after just stacking stuff, then "Start decluttering".

Decluttering, is very stressful. I did not do that anymore. I will just discard them right away when I didn't need them, or I will set a time when I will discard them. 

Cause in the decluttering process, this cycle always happens: "Oo I might need this later" "I will be thinner" "I will probably need it". You probably will need that. But probably, you will buy a new one instead of using your old clothes when you were thinner. 

You buy, and buy, and buy again.

Is it wrong? Well, technically it is not. Everyone can do what they want. 

Here, I am just sharing my experience on having less stuff, which is very-very peaceful. 

The stuff that I bring with me when I moved to Elche 


Moving Across Europe

Here is some tips when you need to move. I think this is gonna be useful for EMJMD Student. 

1) Discarding Stuff. I recommend you to own less stuff. Less stuff equal to, less stress. If you have more stuff than you need you can donate them for the next intake, sell them or donate them. 

Donating the clothes. For the clothes you can donate them to H&M and they will give you voucher. In Italy you can also donate them on Yellow Box Humana. 

In Spain you can donate the shoes and the clotes on Ropa recycle box usually they are everywhere with pink color box. 

2) Plan. You need to plan early on what to do with your stuff. Ask yourself these question: Do you have enough bag to carry them? do you need some card box? Do you have the card box? Do you need to vacuum your clothes? Do you have vacuum bag? Do you need to send them? How you are going to send them?

Wow a lot of things to figure it out. Yes. So plan! I plan and started to pack two months before I moved to make sure that I have time to do everything that I want and clean everything because I hate to be in a rush and you don't know if anyone will help you later on. Remember, it is very stressful, so a plan will help you from all the stress. 

3) Carrying vs Sending. In Europe it is very expensive to buy the check in luggage when you are flying. So I prefer to send them. But another thing that I complain a lot. The distribution provider is very unreliable in Europe. I just realized that Indonesian logistic company are top notch after experiencing EU's logistic company. 


Sending Your Luggage

A lot of my friends got traumatized with sending. It is quite complicated here in Europe. But I have no problem. There are 2 keys: plan and research..

There are few things that you need to know about EU logistic/sender company (most of them) based on my experience.

1. You need to book in advance, they will send the labels (and you need to use their label) and they will pick up on your door. You need to get them ready (with all the labels when they picked your stuff), otherwise they won't pick your stuff. 

2. You can't send them during the weekend (Haven't found one with options to pick up during weekend)

3. On the day of pick up or sending they will "RING the BELL". Remember they probably will NOT CALLING you (some of them yes, most of them no), so put very specific address + DOOR BELL and make sure that you are in the house when they send it. 

If you don't know the door bell, ask. Or put your landlord name. I don't know what is the door bell, I put "The property belong to .... (name of the landlord) in local language" and they can find it, cause they are local. 

There is no exact TIME when they are coming, just the day. So you need to be ready and free for the whole day. (That's why planning is very important). 

I have friends that missed the bell ring so many times, and its really hard to get the stuff when you miss the ring. 

4. They will notify you by email / app. Most of time by email. So, put that pop-up button. I missed one delivery (yes they only ring the door, there is no call, so be ready) and they give me an email they said they will re-send it the next day. So be ready, don't go anywhere, try to see if you doorbell rings. 

5. You couldn't lock your bag when sending, and could not send everything (they will give you the guide). They will scan your bag. So follow their rules and be prepared if some stuff probably missing. 

Watch this video about the information on what you can send and what's not : https://vimeo.com/230908619 | I advice you to not send any liquid. Because they will throw them. Just send some stuff that has low risk like :

-Clothes

-Shoes

-Other home appliance (that you feel you are okay if they went missing)

6. A lot of bags are missing during delivery (I told you its wild), so if you can, I suggest you to buy some insurance that can cover just in case its missing. A lot of companies give the basic insurance of the stuff you send.  And never send important stuff and documents using cargo (bring them with you)!

7. Remember the labels will not be generated instantly as you might think. I need 1,5 weeks to receive my labels. Remember during the weekend all the places are close to print stuff. But the case might varies. (So again, remember to plan)

Try to pack way earlier than the day you need to move. Sort things you won't be needing in a while.


I recommend you to use "Send My Bag" because its associated with DHL. Try to use their student plan. They are very cheap and very fast. | Check here : https://www.sendmybag.com/student-shipping

Why Send My Bag?

1. For the pricewise I think its quite fair. When I need to send my stuff to Spain from Novara they charged me 30euro for 30kg. For me I think the price is quite fair.

2. They have DHL as their Logistic Courier. I don't know if this seems unfair, but I trust DHL and how they work. So far I send 2 items internationally with DHL I have no problem and surprisingly they were very quick. I could not say anything. 

3. Their call center is in The UK, so just incase you have complain or you need more service, you can call their customer center just in case that you can't speak the local language. 

4. They give you free basic insurance. One of my friend lost her duvet (yes. you can still loose some stuff, so be careful don't send something you treasured), and they gave her the insurance fee and the sending fee.


Sending-Stuff-Kit

Vacuum bag will be very helpful especially for clothes. You can print the labels in the university or in the nearest "Copisteria" (honestly never done it, but this is what they said). If you need card box, cello tape or cable ties to put your label you can always find them in the Chinese store.

If you are in Novara, you can find them on a Chinese Home Appliance Store "ShunFa" https://goo.gl/maps/Vj5X4p2rxgXU2tESA

Remember all the printing place are closed during the weekend and open not so early just in case you need to send them on Monday. Always print them ahead of time (seems like not very important, trust me this is very important).


Basic Italian/Spanish

When you are sending them, they will ring your door, and speak of course, in the local language. So try to be able to say "Wait" at least in the local language. 

Wait = Aspetta per favore (Italian). 

I don't speak Italian Sorry = Non parlo Italiano mi dispiace (Italian)

Do you speak English? = parla inglese? (Italian)

Wait = Espera por favor (Spanish)

I don't speak Spanish Sorry = Non hablo Espanol, lo siento (Spanish)

Do you speak English? =  Tu hablas ingles? (Spanish)

Remember not everyone can speak English, so get your phone with you, prepare your passport (some of them one to check if its really you) and always get yourself ready with some phrases that can help you moving in.


Art of Owning Less

Cause I am a proud minimalist, I want to share how convenient it is to life with less. I think becoming a minimalist has save me from headache of packing, of carrying heavy stuff and save me from spending so much time and money to send stuff.

I sent one kg of 30kg bag (30 Euro). Then I carried one small carry on bag and a backpack to Elche. I used promotion code to bring one check in bag that is provided by Ryan Air then I used bus to go to my apartment in Elche 1,6 Euro, very convenient. The flight itself to Elche is not the cheapest but I booked them pretty early so like 30Euro. 

In total my moving cost : 30 + 30 + 1,6 = 61,6 Euro. Very efficient and cost saving, and I would like to say I am happy too. Its not what minimalism about, but as the side effect, I did not reject the fact that I was benefitted by that.

How to Start

If you are not sure how to start, I can give you some recommendations. Remember minimalism is a journey, and not everyone fit into this kind a lifestyle. I am going to say it is indeed very-very hard because you are fighting consumerism that is promoted by modern society.  You are fighting the big brands that wants you to spend more, and using your favorite influencer to lure you buying more stuff and holding on to them. 

The easiest way to start in my opinion, by applying these 4 rules : 

1) If you want to buy stuff, you need to discard some stuff from your collection whatever it is. Except you have none. Slowly, let go "Just in case stuff". 

2) Ask yourself "Do I need it now?" "How long I will like this?" "Is it suitable for me?" before buying anything. If you are not sure with your answer, don't buy them. Postponing pleasure will create a significant impact in buying habit in your life. This is very important to fight consumerism habit that we build through all our life. 

3) Switch into more sustainable options while buying. It will probably cost more but indeed it is. (yes! Minimalism is not cheap! you need to be able to afford sustainable stuff, and most of the time by my experience they are costly, except if you are lucky).

4) De-clutter and try to let go. If you have something you probably never use in 2 years (for me couple months), except seasonal. It's time to let it go. 

Let it go, let it go let it go ~ Its time to be more purposeful in live. Let's go.

That's it! If you have any questions about moving or minimalism, I will be glad to answer


Senin, 12 Desember 2022

Desember 2022 : Year Wrap Up - Pelajaran Hidup

Jadi gua bener-bener mau nulis ini, lebih untuk gua sendiri sih... Udah beberapa kali gua tenggelam dalam pemikiran gua sendiri, dalam perjalanan-perjalanan gua merenung dan merenung tentang kehidupan (dasar si paling filsuf), dan gua mau nulis ini sebagai catatan buat diri gua sendiri dan mungkin anak gua, kalau gua punya di masa depan.

Beberapa "Ilmu" yang gua serap dalam perjalanan-perjalanan gua, akan gua tuliskan berupa poin-poin. FYI ini pemikiran gua doang ya, kalau ada orang ga setuju, maka kembali lagi ke pemikiran masing-masing. 

1) Rangking-rangkingan adalah trik marketing.

Kalian pernah lihat rangking-rangkingan? Iya itu sebagian besar sebenernya menurut gua adalah trik marketing. "Shampoo nomor 1 di dunia" "Universitas nomor 1 di dunia (versi webometriks - alias kriterianya dari visit website)". Ngga semuanya bodong, tapi jangan berfikir ketika kita ada di yang nomor satu atau menggunakan produk yang nomor 1 itu, kita akan "aman" semua akan "woww", karena orang lulus Harvard ada juga cari kerja susah, dan yang pake shampoo nomor 1 juga ketombean. 

Jadi setiap orang pasti yang nomor 1 bagi mereka beda-beda, sesuai kebutuhan. Ngga ada yang salah untuk milih shampoo Mercadona murah yang ga pake rangking-rangkingan kalo rambut jadi kinclong badai. 

Kalian tau beberapa Universitas rangking tinggi untuk program master satu kelas isinya 200 orang.. ya kalo kalian yang kuat jadi spesialis sekelas isi 200 hebat, kalo gua wadidaw jiwa gak mau (apalagi kelas yang butuh praktek). Jadi pada akhirnya kita tahu bahwasanya itu jadi bisnis. Lulusnya sih keren ya, cuma belajarnya kadang ga tau. Makanya dibilang sekarang kita inflasi gelar, salah satunya karena itu. 

2) Global Warming itu Beneran

Jadi negara terutama 4 musim bener-bener terdampak sama global warming woy. Serem banget tiba2 di Bulan April pertengahan gua ke Paris dan ke Sacre Cour tiba-tiba turun salju. Naudzubillah dingin banget gua kek mo meninggoy rasanya. Terus pas gua ke Rotterdam, Ya Allah beneran parah banget cuacanya. padahal April harusnya masuk Spring. Di Italia sempet gak hujan selama lebih dari 100 hari pas musim gugur yang harusnya hujan terus. Sampe gagal panen padaan. Jadi parah banget sih kerasanya kalo tinggal di Eropa. Temen gua bilang "Keknya udah ga ada lagi yang namanya musim deh". Saking semrawutnya. 

3) Namanya manusia semua sama aja

Kalau kalian berfikir orang yang hidup di negara2 barat lebih daripada kalian, gak betul sama sekali sih. Yang beda mungkin sistemnya. Beberapa kota2 di negara2 di Eropa justru kondisinya lebih parah dari Indonesia. 

Kita lihat pengendara di Eropa kayaknya sopan2 tapi gak semuanya, ditempat yang macet pasti gak sopan juga (ga mendahulukan pejalan kaki) misalnya kayak Roma, Napoli sampe dibilangin sama orang setiap mau kesana "Mind your life" saking brutalnya pengendara disana, tapi kalo yang gak macet pasti sopan. Jadi sebenernya tergantung sistem dan lingkungan. Kalo Indonesia gak macet pasti dahulukan pejalan kaki juga. 

Kalau kalian berfikir disini bersih, ngga juga ya. Yang jorok banyak, terutama pup anjing itu dimana-mana. Karena gak ada masjid yang gratis toilet, banyak orang kadang pipis sembarangan terutama homeless jadi kayak Barcelona itu bau pipis banget jalanannya. 

Sempet di Alicante mau sholat di taman tapi semeter dari situ ada pup anjing, temenku ampe, "Ya Allah rim kek mana ini". Gua bilang "Bismillah aja dah" saking dimana-mana banyak pup anjingnya.

Kalau image kalian semua negara Eropa itu kayak Swiss, nggak ya. LOL. Yang Swiss kayaknya ya Swiss doang. Cuma di Zurich atau Luxemburg kayaknya yang homeless atau gelandangannya dikit.

4) Gak Bisa Bahasa Inggris?

Banyak orang nge-jokes orang Indonesia gak bisa bahasa Inggris. Lah, orang Barat juga gak bisa dan mereka gak mau. Jadi jangan dianggap gak bisa bahasa Inggris sebagai suatu kekurangan. Kalau memang butuh, belajar. Kalau gak butuh, yaudah. 

Bayangkan hidup disini orang ngeliat kita bahasa Inggris mereka gak mau bantu, orang Indo setidaknya kalaupun gak bisa pasti mau bantu. Karena perang masa lalu juga mereka gak mau kalau orang bicara bahasa Inggris sama mereka. Makanya pas aku ke Portugal aku kaget banget karena semua orang bisa dan mau berbahasa Inggris. Aku gak menyalahkan mereka kan ya, masing2 negara pasti beda. Cuma justru kalo orang Indo dianggap terbelakang karena gak bisa bahasa Inggris menurut aku cukup lucu ya, orang barat yang katanya negara maju juga gak bisa dan gak mau (dan mereka gapapa, kenapa terus kita dianggap terbelakang (?)). 

5) Homeless Indonesia Lebih Baik (?)

Di Eropa banyakk banget homeless dan copet, aku sampe kaget. Aku berkali2 hampir kecopetan. Katanya mereka ngincer orang Asia karena dimata mereka orang Asia kaya. Kata temenku gara-gara aku pake aksesoris mutiara lombok yang menjuntai, jadi keliatan mencolok (padahal aku cuma punya satu bros ya itu doang XD dan gak seberapa mahal).

Rata-rata homeless Indonesia masih punya gubuk, tapi homeless disini beneran ga ada rumah jadi mereka kayak dorong kereta belanja yang isinya barang2 mereka. 

Pas aku di Roma, deket terminalnya banyak banget homeless tidur dan yang lebih sedihnya mereka pipis dikasur tempat mereka tidur, kadang kalo mereka punya anjing ya anjingnya juga pup deket tempat mereka, hufft nano-nano rasanya. Pas aku di Paris banyak homeless tidur di dekat tempat sampah yang tempat sampahnya penuh banget. Mereka ga punya tempat istinja, karena disini jarang banget tempat istinja gratis. Kalo di Indo at least masjid masih ada dan gratis, dan walaupun bedeng dan sepetakan masih ada geribik tempat bernaung. 

Ternyata yang mikir soal homeless Indonesia lebih baik bukan cuma aku doang, aku gak sengaja dengerin Podcastnya Turah dan Leonardo Edwin karena si Leo baru balik dari US dan Leo juga bilang hal yang sama tentang homeless di US yang ga punya rumah dan di Indo setidaknya lebih baik karena masih ada geribik. 

6) Sesuatu yang Berbeda? Hidup Kerja Santuy

Sebagai orang Asia aku jujur kaget banget lihat etos kerja orang Eropa yang sangat santuy, aku rasa karena mereka previledge banget makanya mereka bisa hidup seperti itu. Jadi aku super pusing karena mereka apa-apa bukanya siang, jarang ada yang 24 jam, ada waktu break siang yang panjang (semacam siesta dari jam 12 sampe jam 5 sore), banyak libur, dll dkk (Pengecualian beberapa negara kayak Jerman ama Portugal mereka kerja keras banget dan dari pagi toko2 udah buka). Mungkin mereka gak sadar kalau hidup mereka previlej dan super santuy dimata orang negara lain.

Beberapa temen aku berfikir kalau aku workaholic, tapi sebenernya engga. Ya, semua orang Indonesia seperti ini dan aku cuma orang Indo rata-rata, aku gak spesial. Kita semua bangun jam 05:00 bahkan banyak yang lebih awal kayak jam 04:00 atau 03:00 untuk tahajudan dulu. Justru kalo mulai hari siang, ya aneh orang ga ada yang se-siang itu, paling siang mungkin orang bangun setengah 7 kali ya, itu aja pasti gak sempat sarapan sama siap2 kerja pasti gedabrukan. Aku cuma mempertahankan yang udah aku lakukan lebih dari 20 tahun karena aku ga punya previlej seperti mereka. 

Salah satu yang kontrast banget yang aku rasain adalah kalau jalan sama orang Indonesia start jam 07.00 atau jam 08.00 biasa karena jam 05.00 pagi kita udah bangun wakakakak. 

6) Jam Karet!

Orang bilang orang Indonesia itu parah soalnya sukanya ngaret, jam karet! Weit Seit! Ternyata disini lebih parah (ngakak gak tuh), ini aku juga kaget sih. Karena ekspekstasiku orang negara maju bentukannya kayak orang Jepang atau China semua (karena aku udah ke dua negara itu dan mereka sangat disiplin dan pekerja keras). Ini juga ada pengecualian-pengecualiannya ya.. 

Tapi pas aku disini gile, setiap kuliah aku selalu datang yang pertama. Aku pikir kalau kuliah jam 10:00 tentu datang jam 09:45 atau 09:30 itu udah mepet, at least ada orang di kelas. Ternyata aku selalu yang pertama. Awal-awal di Italia, kelasnya bahkan belum di buka dan aku minta dibukain kuncinya. Akhirnya karena petugasnya tau aku selalu datang awal, akhirnya satu jam sebelumnya dibuka kelasnya. Ngakak banget kadang-kadang. 

Terus dosennya santai juga kalo ada yang terlambat. Ini kaget banget. Karena di Indonesia, di UGM dosen-dosennya disiplin bahkan kelasnya dikunci kalau terlambat. Kata dosen aku, kita harus hargai waktu. Ada kesempatan 3x gak masuk, kalau memang lagi gak bisa masuk, bisa gak usah masuk daripada terlambat. Tapi disini itu gak berlaku, jadi aku juga kaget. Mungkin beda budaya.

Jadi kesimpulannya, Jam karetnya Indonesia, lebih mending dari jam karetnya orang Eropa (ini ngakak sih). Tapi gak boleh ya guys, kita harus hargai waktu, karena yang paling mahal itu waktu. 

Jujur setelah tau mereka kurang disiplin, aku gak ada ekspektasi apapun (ini mengakak). Karena menurut aku pribadi, waktu yang paling penting. Ternyata orang Asia jauh lebih disiplin. 

7) Birokrasi dimana-mana sama aja

Kalau kalian mikir di Indonesia sering gak jelas dan birokrasinya lama. Disini sama aja. Yang lebih kocak adalah disini sering gak dicantumin dengan jelas persyaratannya, misal kita mau urus surat2 apa gitu gak dicantumin secara jelas dan gamblang apa kriterianya. Misalnya kalau di Indo daftar ulang perlu bawa A, B, C. Disini, kadang gak ada yang tulis. Kita harus tanya lagi apa kriterianya, kadang setelah dicek ada aja yang kurang. Yang ngalamin gak cuma aku, dan gak cuma di 1 negara Eropa doang tapi dimana-mana banyak yang gitu.

Pas aku daftar Padron (Statistik di Spanyol pas baru aja sampe) tiba2 ditanya bukti pembayaran rumah bulan pertama, ya gile untung aja aku ada bukti transfer dan aku tulis note kalau itu bukti pembayaran bulan September. Gak ada yang kasih tau kalau butuh itu dan gak tercantum dimana-mana. Harus tanya-tanya gitulah modelnya. Beberapa temen ditolak2 karena ternyata kurang ini kurang itu, masalahnya "Ini-itunya apa" God knows, ngakak banget. Ya, dimana-mana birokrasi sama aja. 



Udah segini dulu ya...

bersambung ...