Minggu, 11 Oktober 2015

Gallery #1

Yoce ketika pembacaan LPJ KMFA, He is cried that time. Such a great leader (Ruang Sidang Unit 5, 2014)

Mba Anjar dan Mba Febi di Annual ISPE 2014, belle :) (Auditorium FKH, 2014)

Wallpaper komputer 2014 "They say if you change yourself you'll change the world, but that's a complete lie. They just forcing you to compromise by feeding you convenient little fib". A complete true makjleb sentence

"They say if you change yourself you'll change the world, but that's a complete lie. They just forcing you to compromise by feeding you convenient little fib" - Hikigaya Hachiman (Yahari ore no seishun lovecome wa machigatteiru)

Tulisan yang ketemu nggak sengaja setelah pisah kelas C dan penjurusan masuk FBA. Pharmache selalu dihati (Lab AOKM, 2014)


Pantai kelapa rapet yang akan dan selalu jadi "Calsedonia"nya saya :). I love canoeing so much! (Kelapa Rapet, Lampung Selatan, 2011)

Stasiun Surabaya Gubeng jam 04.00. Ngebolang saat menghadiri Annualnya ISPE Jatim-Bali. Tidur disini. di depan sini dengan selembar koran. Such a great experience. (Surabaya, 2014)


Sabtu, 10 Oktober 2015

Magang di Industri Farmasi: My ISPE Industrial Internship experience part 1


Setelah hampir 2 bulan selesai magang. Baru ada waktu untuk nulis apa yang terjadi selama saya magang? Mari kita simak pengalaman berikut ini.

Magang Industri Farmasi? Mungkin yang ada dibenak temen-temen yang waktu itu belum lulus S1 adalah magang ketika PSPA, atau profesi apoteker. Tapi lewat ISPE DIY-Jateng (karena say di DIY), saya dapat kesempatan belajar di Industri, dunia profesional sebelum PSPA (alhamdulillah, terimakasih ISPE Indonesia Affiliate). ... dan kalau boleh jujur, pengalaman magang mengubah banyak hal dalam diri saya dan ada beberapa penyesalan yang datang dalam diri *jengjengjeng*


Magang Indutri ISPE (International Society of Pharmaceutical Engineering) DIY Jateng Student Chapter

Seperti temen-temen tahu.. ISPE adalah organisasi profesional praktisi Industri Farmasi yang induknya ada di Tampa, Florida. ISPE ada affiliatenya di seluruh dunia, dan di Indonesia yaitu ISPE Indonesia Affiliate. ISPE DIY Jateng Student Chapter induknya adalah ISPE Indonesia Affiliate, wadah dari temen-temen yang minat untuk kerja dan berkecimpung di dunia Industri Farmasi. ISPE menjembatani saya untuk magang, jadi buat yang penasaran bisa klik disini.


Kebetulan saya magang di Perusahan Farmasi sebut saja PPZ, Semarang
di Bagian Produksi di bawah supervisi Bapak Iman (terimakasih bapak!)

Perusahaan tempat magang

Pada bagian pertama ini akan saya paparkan ketiga penyesalan saya ketika magang industri.


Penyesalan pertama : kenapa saya nggak magang dari dulu?


Dulu, menurut saya pelajaran sosial dan pelajaran industri itu sangat mengantukkan. Karena saya nggak bisa membayangkan apa yang diajarin dosen. Sekalipun liat youtube sampe hafal, tetep nggak bisa nyangkut. Apasih CPOB? To annoying to be understood apalagi dihafal. Setelah masuk dunia industri, huwahahaha.... ternyata pelajaran itu sangat nyata dan dekat, dan sangat menyenangkan untuk dipahami.

Saya bisa bener-bener lihat proses-proses luar biasa yang biasanya saya lihat di youtube, dan yang nggak saya lihat di youtube. Adegan ringkes-ringkes saat ruangan produksi mau dicat ulang epoksinya misalnya. Adegan ruang capsule filling saat running yang ditutup dan ditemani cahaya kuning romantis misalnya. Adegan IPC PP cap India vs Cina misalnya. Adegan Bule mentraining mesin strip baru misalnya. Dan adegan-adegan seru lainnya yang nggak bisa kita temui dibuku dan youtube 2 dimensi kita. Its too amaizing to tell you in detail. For me, I regret the times I spend lazily sleeping around the corner of my sloppy kos-kosan, I regret it a lot.

Sekalipun kita kunjungan, tetep aja beda. Kalau nggak mantengin mesin dan alur produksi tiap hari, kita belum dapet apa-apa.. nggak akan ada adegan-adegan berepisod-episod yang romantis kayak gitu.. saat itu saya sadar kalau gap antara pendidikan dan industri yang selalu dan selalu di gaungkan sebagai hal yang mau dijembatani ISPE itu ada. Dan salut untuk ISPE Indonesia Affiliate yang mau membimbing kita dan transfer ilmu.

Jadi buat temen-temen semester 5 ke atas yang mau magang ISPE. Kesempatan ada untuk dimanfaatkan. Sepulang dari magang jadi lebih semangat belajar, karena lebih enak (ada gambaran banget di Industri itu gimana jadi masuk aja di kepala). Kalian pasti gitu juga. So excited buat magang PSPA

If I can turn back the time, I want to do it more, a lot (pengen coba bagian lain juga)
**jadi untuk kalian yang masih punya banyak kesempatan, raup kesempatan sebanyak mungkin**

Penyesalan kedua: kenapa cuma 4 minggu?

Minggu pertama karena masih orientasi 1 minggu kerasa lama banget karena belum biasa, Cuma setelah minggu kedua, yup time flies. Nggak kerasa banget dan rasanya makin haus ilmu terus. ISPE sangat menyarankan untuk 2 bulan karena ada alasannya. Waktu 1 bulan itu nggak cukup dan mungkin bisa jadi apa yang didapet belum optimal.

Awalnya waktu masuk produksi, bingung mau ngapain. Dikasih tugas juga bingung, tapi dengan bimbingan semuanya, semuanya jadi menyenangkan..

Apalagi.... ternyata setelah coba 3 shift seru banget (kebetulan kalau bagian produksi selalu 3 shift). Jadi Pak Iman memberi saya kebebasan untuk masuk shift 1,2,3 (dan saya coba tiga-tiganya). Ternyata ada keasyikan di tiap shiftnya.

Jujur kalo mau nongkrongin mesin, lebih enak shift 3, karena personilnya lebih sedikit (ruangnya kan ada maksimumnya berapa orang boleh masuk, kalau pagi seringan cuma bisa liat dari luar). Baru tau setelah minggu terakhir. Pegawainya pada kaget ini ada anak magang masuk shift 3.

Pernah suatu hari saya nongkrongin pembuatan zenirex dan sampai pada saat pengayakan ikut bantu bersihin mesin frewitt dan ngerasain setengah mati membersihkannya. Itu pengalaman luar biasa banget. Siapa sih anak S1 yang udah pernah nongkrongin dan bantu ngutek-utek mesin Hutlin dan Frewitt jam 2 pagi? I guess not a lot... (tentunya dibawah supervisi yang bertanggungjawab: Don't try this at home ya.. kalau mau ngutek2 ada aturannya ^^)

Tiap hari ketemu orang berbeda yang ceritanya beda, itu serunya produksi. Dan baru bisa aku rasain diminggu-minggu terakhir karena baru bisa ngerasain enjoy dan adaptasi full enaknya kayak gini.

Penyesalan ketiga: I wish I know what I need to know

Sebelum masuk industri udah belajar dulu, cuma mungkin setandar anak kuliahan (dan berhubung saya dari bahan alam, pengetahuan industri juga minimal). Saya dan Dewi (yang juga magang ISPE di Zenith) belajar barengan di kosan.

jadi ceritanya hari pertama saya dan Dewi masuk QA. Mendadak Pak Iman minta anak magang, akhirnya saya dipindah ke produksi. Ada rasa degdegan luar biasa saat pisah dengan koloni (hahaha, yaa sangat manusia), sekaligus mikir "ini tantangan" lalu apa yang terjadi?

Begitu masuk hari pertama di produksi Pak Iman bilang, "Saya minta kamu mengukur efisiensi Printer Inkjet Hitachi"

Saat itu yang terlintas dikepala saya adalah mesin printer laser yang sering ada di kantor-kantor. Tapi ternyata adalah mesin koding untuk melabel bahan kemas pra-kodifikasi yang ada di CPOB. Jauh banget dari mesin printer.

Setelah bingung-bingung akhirnya dengan bantuan semuanya tugas itu bisa terselesaikan..
Shock bukan? Ternyata yang kita pelajarin saat kuliah memang sangat basic, jadi supaya kita kompeten sekaligus terpacu dan tau apa yang penting untuk dipelajarin dan bagian apa di Industri yang temen-temen minatin, coba deh magang.

Awalnya saya nggak mau banget kalau di produksi, nggak ngerti di QA, PPIC itu sebenernya tugasnya apa. Pengennya RnD aja... setelah masuk Industri justru pilihan utama saya masuk pada produksi, QA dan PPIC. I love those so much walaupun dimana aja aku mungkin fine selain RnD formulasi tapi gatau juga sih...



-----
Saya akan menutup postingan kali ini dengan cerita dari Pak Rudy, Manager QC PPZ

"Ketika saya lulus IP saya nggak ada 3, dan saya dulu awalnya asisten apoteker (lalu lanjut S1 dan Apt)
saya beda dengan yang lain karena sering ganti-ganti bagian...
tapi ada satu hal yang selalu saya lakukan disetiap bagian,

pelajari sesuatu secara detail, yang bisa menjadi nilai tersendiri untuk kamu...
tanyakan semua hal
ketahui semua hal
jangan sampai ada satu hal pun yang kelewatan
maka kamu akan jadi ahlinya

misalnya bapaknya di QC pas jadi AA sampai bisa bongkar HPLC sendiri ngalah-ngalahin teknisinya
disitu bapaknya jadi spesial...

dan bapaknya berpesan"

"Kita harus jadi spesial kalau mau sukses"

Sekian. Terimakasih Pak Rudy dan PPZ
terimakasih juga ISPE DIY Jateng dan ISPE Indonesia Affiliate dan ISPE Int'




Rabu, 18 Maret 2015

Resensi Buku: Middle Passage by Charles Johnson

Judul buku: Middle Passage
Pengarang : Charles Johnson
Penerbit: Scribner Paperback Fiction
Tahun terbit: 1948
Bahasa : Inggris
Jumlah halaman : 209 halaman


Middle Passage adalah salah satu novel yang juga saya temukan di American Corner perpustakaan UGM. Bercerita tentang perjalanan Rutherford Calhoun di sebuah kapal bernama Republic untuk lari dari pernikahan terpaksa dengan seorang wanita yang dia temui bernama Isadora. Calhoun diam-diam naik ke kapalnya, jadi setelah ketahuan dia dipekerjakan tanpa dibayar (alias perbudakan). Ternyata kapal Republic itu berlayar menuju Afrika untuk menangkap suku Allmuseri untuk dijual sebagai budak di Amerika.  Perjalanan Calhoun mengajarkan banyak kebijaksanaan dalam dirinya, belajar tentang dirinya dan juga negaranya, Amerika.

+++
Sebenernya ceritanya bagus (dapat penghargaan nasional juga di Amerika), dan diceritakan dengan bahasa yang luar biasa romatis. Gw belum pernah baca novel asing yang deskripsinya akan sesuatu sangat-sangat romantis (mungkin karena sastra lama? I dont know..). 

Favorit gw adalah penggambaran dermaga di halaman 4, entry the first (entry the first --> judul bab 1)

Oh iya, beberapa bagian menggambarkan realita dunia. Saya suka bagian itu... ternyata dunia ini dari tahun 1948-2015 belum banyak kemajuan yang berarti, terutama dari segi moral. Sedih juga.

---
Tapi, jujur bahasanya terlalu sulit untuk gw dan gw harus buka-buka kamus setiap kali baca dan erggh its annoying (maklum bahasa Inggris saya masih belepotan). Tapi begitu kamu udah paham kalimatnya. Buku ini sesungguhnya sangat mempesona.
Oh iya, alur ceritanya lambat dan penggambarannya ada yang berlebihan juga jadi gak enak. Agak kurang bisa ditebak ini arah ceritanya mau gimana soalnya lambat alurnya. Terusan tiba2 ada tokoh yang tiba2 muncul, jadi piyee gitu rasanya.

Overall menurut gw nggak terlalu recommended untuk dibaca sebagai penghilang stress, but the story is good enough if you want to know about slavery.

Sudah baca? Yuk komen :)
Happy reading and keep inspiring!



Selasa, 10 Maret 2015

Resensi Buku : The Miracle of Working with Passion!


Judul buku : The Miracle of Working with Passion!
Pengarang : Louis Sastrawijaya
Genre : Self-motivation/self improvement book
Harga : xx.xxxx ( saya kebetulan beli diobralan, jadi nggak tahu masih naik cetak atau nggak)

Cover Buku


Buku ini saya beli bersamaan dengan biografi Pak Karmaka, pendiri Bank NISP yang ditulis Dahlan Iskan (yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris) di sebuah toko buku T*** Mas di Jogja. Buku ini tergeletak diantara buku-buku obralan seharga sepuluh ribu rupiah (begitu pun dengan buku biografinya). Tapi siapa sangka buku sepuluh-ribuan ini bakal mengubah hidup saya sepuluh tahun kedepan? He-he. Ilmunya melimpah ruah dan buat yang butuh motivasi, bener-bener cocok. Ada apa isinya? mari kita bahas.

Karena model buku ini adalah self-improvement book (yang baiknya dibaca oleh yang membutuhkan dari awal sampai akhir), jadi baiknya saya nggak terlalu banyak cerita soal isinya. Nanti penasaran kamu jadi hilang. Kita bahas highlightnya aja ya...

Apa sih yang dilihat HRD sebuah perusahaan dalam mencari karyawan?
Apa sih yang harus kita lakukan saat kita merasa pekerjaan kita nggak sesuai dengan passion?
Apa sih passion itu?
Katanya... mereka yang sukses yang kerjanya sama dengan passion?
Terus kalau pekerjaan kita udah stabil terus harus kita tinggalin gitu buat passion?
Passion . berarti, mau ngerjain walaupun gak dibayar karena hati puas.. terus gw makan apaa??
Yakin ... ?

Jawaban semua pertanyaan itu ada di dalam buku ini. Memang higlightnya adalah working, atau bekerja. Tapi sebenernya semua teorinya bisa diaplikasikan kok dalam organisasi, dalam belajar, dalam semua sendi kehidupan yang kita jalani.

Seperti udah kita tahu kalau Om Louis adalah motivator terkenal di Indonesia.. Banyak perusahaan sudah mengundang beliau untuk memberikan motivasi (buat yang nggak tahu kekeke ^^).. Di dalam buku ini Om Louis membagi pengalamannya mengapa beliau menjadi motivator. Ternyata karena kesukaannya belajar, mengajar dan membagi inspirasi. Beliau juga untuk menjadi "motivator" nggak gadungan. Beliau banyak belajar, bahkan sampai keliling dunia untuk mencari refrensi dan mengulik sebenernya manusia itu seperti apa (belajar dari pakar2 psikologi dunia).

Di dalam buku ini, kita akan mengenal 'passion' dan 'pekerjaan' dalam satu waktu. Kita akan kenal, pentingnya passion dalam pekerjaan dan gimana sih menumbuhkan passion dalam diri kita.
Kita akan tahu, kalau pentingnya itu buat "Kita". Iya "Kita". Kau, aku dan perusahaan. Jadi artinya, berpassion dalam sesuatu itu penting juga buat orang lain.

Lalu kita juga belajar tentang prioritas, tentang supply dan demand... Gimana seandainya 'passion' itu tidak menghasilkan uang (makan misalnya ?) ... ada solusi didalam buku ini dan menurutku sangat solutif dan sekaligus membuka cara berpikir yang sama-sekali-baru.

Dulu menurutku konsep 'passion' itu masih terlalu polos
Passion: something that makes you happy when you do it.. Things that you'll never get tired of it
Udah tau nih, passion itu ini... terus berusaha buat menemukan dan menjadikan sesuatu sebagai passion alias mekso.
Nah, Om Louis memberikan alternatif tentang 'passion' dan pekerjaan. Tentang apa yang sebenernya penting dalam hidup ini. tentang menjadi diri sendiri yang 'optimal'


+++
Buku ini bahasanya sederhana disertai contoh-contoh, jadi nggak mumet bacanya.
Banyak teori-teori, tapi selalu ada contohnya, ada gambarnya juga lho..
Buat kamu yang butuh motivasi dan bimbang dalam bekerja (atau mencari kerja, kudu baca buku ini)


---
Ada beberapa teori yang menyangkut agama dan sebagai muslim saya cukup kontradiktif (sedikit sih) but overall its okay. Bagiku agamaku, bagimu agamamu ^^ .

Tambahan... buat yang mau baca cerita-cerita inspirasi bisa langsung ke :
http://louis-sastrawijaya.com/

Oh iya untuk review ini quotenya mungkin agak-nanti berhubung bukunya sekarang sedang melayang entah kemana ^^


Happy reading and keep inspired!
Yogyakarta, 10 Maret 2015

Sabtu, 28 Februari 2015

Resensi Buku: Novel Being There by Jerzy Kosinski

Judul : Being There
Penulis: Jerzy Kosinki
Tahun Terbit: 1970
Tebal : 118 halaman
Bahasa : Inggris


Novel lama ini saya temukan di sudut perpustakaan UGM dibagian American literature, karena ukurannya mini dan lumayan tipis. Sesuai dengan ukuran kantong jas lab saya, makanya segera saya pinjam tanpa lihat-lihat isinya dulu. Lumayan, sambil isi waktu saat elusi atau susut pengeringan haha. Berkode FA kos B.C3 

Ternyata, novel yang ditulis ketika ayah-ibu saya masih kanak-kanak ini menyajikan cerita cukup menarik mengenai seorang anak yatim-piatu yang diberi nama ayah angkatnya (sebenarnya bisa dibilang, orang yang membesarkannya. Gak bisa disebut 'bapak' juga),  Chance. Chance diberi tugas untuk merawat taman di rumah si Bapak. Tapi Chance nggak pernah keluar dari rumah, jarang ketemu orang kecuali maid yang mengantar makan dan si Bapak sendiri. Chance nggak tahu dunia luar itu seperti apa...

Chance nggak bisa membaca dan menulis, ia cuma tahu dunia luar melalui TV. Dimanapun kapanpun, Chance selalu menonton TV

Sampai akhirnya si Bapak yang punya rumah meninggal dan ternyata rumahnya diserahkan ke seorang Lawyer yang akan mengurus soal pegawai-pegawai yang bisa mengurus rumah. Masalahnya, Chance nggak pernah didaftarkan sebagai 'petugas' rumah alias gardener di rumah itu. Akhirnya terpaksa dia keluar dari rumah.

Waktu keluar dari rumah, entah dia mau kemana. Nggak sengaja dia tertabrak limusin dan kakinya luka gitu. Ternyata limusin itu membawa seorang wanita cantik yang merupakan istri pemilik perusahaan konsultan akunting pertama di Amerika. Konglomerat kaya raya, yang uangnya tumpah-tumpah dan berbaik hati mau merawat Chance sampai sembuh.

Pasangan konglomerat ini tidak dianugrahi keturunan. Utamanya karena Rand (suami dari istri dalam limusin -pemilik perusahaan-) sudah sangaaat tua dan bertahan hidup dari obat-obatan alias dopping setiap harinya. Singkat cerita, keberadaan Chance menarik perhatian Rand. Dan karena Chance nggak tahu dunia luar, dia selama itu hidup di dunia kecil: kamar dan tamannya. Chance jadi sosok optimis yang gak takut akan dunia. Chance suatu hari diajak Rand ketemu presiden Amerika dan dia memberikan pendapatnya tentang ekonomi Amerika di masa sekarang dan masa akan datang. Chance sangat berani. Ia sosok (dan karakter) yang bener-bener baru ga ada pada saat krisis ekonomi Amerika pada saat itu. Sampai-sampai presiden menyitasi kata-katanya dalam pidato kepresidenan. 

Nah, lalu apa yang terjadi dengan Chance selanjutnya? Silahkan simak sendiri dibukunya :) cukup tipis kok, bisa dibaca kapanpun. Bahasa Inggrisnya juga ga rumit.

(+) Mengambarkan manusia, diluar dan didalam "kotak ajaib" bernama TV. Sangat fresh, dan membuat kita evaluasi terhadap diri sendiri.
Sekarang kan sedang musim nih 'pemujaan' terhadap anggota boyband atau girlband yang dianggap cantik/keren. Tapi itu superfisial banget. Dan manusia butuh sadar akan hal itu!! (dan novel ini membahasnya dengan sangat apik!)

(-) Akhir yang menggantung dan klimaks yang menurutku nggak ada, kurang greget. Ada adegan yang amerika banget dan gw ga ngerti esensinya dimana. Ga ada malah lebih bagus

Quotes from being there:
"Plants were like people, they needed care to live, to survive their disease and to die peacefully"

"Yet plants are different from people. It cannot help growing, and its growth has no meaning since a plant cannot reason or dream"

"Television only reflected only people's surfaces; it also kept peeling their images from their bodies until they sucked into the caverns of viewers eyes, forever beyond retrieval, to disappear" 

Happy reading and keep inspired~!

Sabtu, 14 Februari 2015

Resensi Buku: The Alchemist / Sang Alkemis


Judul buku: Sang Alkemis (The Alchemist)
Pengarang : Paulo Coelho
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga : Rp 4x.xxx
Dimensi : 216 halaman; 20 cm



The Alchemist menceritakan tentang perjuangan seorang anak yang mengejar mimpinya. Dalam belakang bagian buku ini (di cover) diceritakan anak itu bernama "Santiago" tapi dalam bukunya sendiri nggak dituliskan diapa nama anak tersebut. Tokoh utamanya disebutkan sebagai "Anak itu" atau "Si gembala" karena anak itu ingin menjelajah dan memutuskan untuk menjadi gembala.
Suatu hari anak itu mendapat mimpi tentang piramida-piramida, dan ia datang pada seorang gipsi untuk menerjemahkan mimpinya. Sang Gipsi mengatakan ia akan mendapatkan harta karunnya di piramida-piramida tersebut. Nggak percaya dengan kata-kata orang Gipsi ini, dia pun melanjutkan perjalanan. Sampai ia bertemu dengan seseorang yang mengaku raja salem, raja salem meyakinkan si anak untuk mencari harta karunnya. Disitulah perjalanannya mengejar mimpi di mulai...

Novel ini sendiri menurut saya bergenre fantasi. Karena banyak adegan-adegan ghaib di dalamnya. Tapi kamu nggak akan menemukan alien atau binatang aneh didalamnya seperti adegan star wars. Tapi ada adegan ketika si anak bicara dengan angin yang nggak mungkin dilakukan kecuali dalam buku (fantasi maksudnya).

Buku yang saya baca ini adalah cetakan ke empat belas~ dan buku ini sudah dicetak ulang ke berbagai bahasa sejak tahun 1988, semenjak saya belum lahir. Mungkin banyak yang penasaran apa serunya buku ini.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana (atau karena terjemahan jadi sederhana?). Kalau teman-teman adalah penikmat bahasa dewa-nya andrea hirata, maaf tapi dibuku ini nggak ada. Kalimat-kalimatnya begitu klasik, simpel dan mudah dicerna. Tapi alurnya sangat menarik dan dalam. Pesan yang ingin disampaikan begitu kuat dan konsisten. Tentang "Pertanda-pertanda" yang saya terjemahkan dalam bahasa saya sebagai "Insting yang sebenarnya didapat dari apa yang sudah kita pelajari" dan sebenarnya secara scientific sudah dibuktikan. Tentang "Takdir" yang selalu dikatakan sebagai "maktub" dalam buku ini. Tentang "Mengejar mimpi".

Dalam pengejaran mimpi itu kita harus mencermati "pertanda-pertanda" dan waspada dalam menginterpertasikan "takdir" kita.

Banyak banget yang bisa dipelajari dari buku ini, dan sangat memotivasi. Buku ini magnetnya kuat untuk saya sehingga 216 halaman habis dalam 2 hari. Menatik bukan?

Nah, sisi negatifnya adalah. Buku ini mengajarkan tentang "Law of Attaraction" atau LOA yang bukan sama-sekali prinsip orang Islam (sebagai muslim, itu cukup menganggu saya, tapi toh ya sudah ini cuma karya fiksi). Apa itu LOA? Seperti pernyataan "Kalau kamu ingin mewujudkan sesuatu maka alam akan bersatu padu mewujudkannya". Kok saya kurang cocok masalah itu ya :)

Berikut quotes dari "The Alchemist"
"Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sama setiap hari, pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yang kita kehendaki, maka orang-orang lain ini menjadi marah"

"Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri"

"Beginilah dusta terbesar itu: bahwa pada satu titik dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita dan hidup kita dikendalikan oleh nasib"

"Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk memperolehnya"

"Aku takut kalau impianku menjadi kenyataan, aku tidak punya alasan untuk hidup lagi"

masih banyak banget, tapi maaf nggak bisa ditulis semua. Berikut caption dari orang2 dunia quotes "The Alchemist"





Happy reading and keep inspired!
Yogyakarta 15 Feb 2015

Kamis, 17 April 2014

Zombigaret, Aku, dan Secarik Kertas Kuning

Zombigaret, Aku, dan Secarik Kertas Kuning

Oleh: Karima A.


“Ma,” Panggilku pada mama pelan. Tapi ia tidak menoleh. Wajahnya menghadap ke jendela yang terbuka. Pandangannya kosong, tangannya menggenggam secarik kertas berwarna kuning.
“Ma…” panggilku lebih keras. Mama menggerakkan wajahnya, tapi bukan menghadapku. Melainkan kepada secarik kertas kuning yang tadi digenggamnya erat. Ia memperhatikan kertas itu dengan seksama dan mulai menangis. Tangisan yang sesak dan dalam, tanpa suara.
Seketika air mata ikut merebak di wajahku. Aku tahu tentang kertas kuning itu. Kertas kuning itu adalah ‘tiket’ yang selalu aku buat sebagai hadiah ulang tahun keluarga, tiket itu menunujukkan apa yang akan aku lakukan untuk orang yang menerima. Disecarik kertas itu tertulis ‘Lagu Bunda’. Sebuah lagu yang kujanjikan akan aku persembahkan untuk mama.
“Mama maafin Dira…” ucapku lagi. Mama tidak menoleh. Tidak akan. Sebab sejak tadi mama tidak mendengar apapun. Dan yang aku ucap tidak pernah terdengar pula. Tidak akan pernah. Sejak hari ini, sejak sekarang, sejak operasi laryngectomy atau kotak suaraku selesai dilakukan. Dan sejak saat ini pula jiwaku telah berpindah tempat. Sebab suara yang menjadi nafasku itu, hilang terbawa kabut asap.
xxx
3 November 2012 | First Meeting
                Hari aku menginap di rumah Sesa. Sesa adalah pelatih paduan suara kami sekaligus seorang penyiar. Kami bermain monopoli sepuasnya sampai semuanya sudah kelelahan. Sesa lalu duduk di balkon dan menghidupkan rokok. “Kamu ingin jadi penyiar?” Ucapnya mendengarkan curhatku. Aku menganguk. “Bisa. Tapi suaramu nggak berkarakter, nih..” dia menyodorkan rokok yang sudah dihisapnya. Dengan ragu aku menghisapnya. Rasanya pahit dan sesak pada hisapan pertama. Tapi ada sensasi menggelitik di kepalaku, hingga aku menghisapnya hingga selesai dan bahkan meminta batang kedua.
6 November 2013 | This addiction
                Sudah setahun aku kecanduan merokok. Setiap pulang sekolah dan jeda istirahat aku mencuri waktu untuk merokok, aku mampu menghisap 15 batang sehari dan mencoba berbagai jenis rokok. Entah kenapa aku mulai merasa sedikit sesak dan kesulitan saat bernyanyi, apa karena aku merokok? Tuhan, aku ingin berhenti. Tolong aku.
xxx
                Sejak awal tahun 2014 aku merasa sakit ditenggorokan, terus menerus batuk, dan tidak bisa menyanyi karena suaraku sangat serak. Mama membawaku ke dokter karena khawatir dengan batukku. Dokter melakukan laringoskopi dan biopsi. Aku didiagnosa menderita kanker tengorokan stadium 2. “Masih stadium 2, kamu punya bayak harapan untuk sembuh”, ujar dokternya. Saat itu mama terisak, tapi aku berjanji akan sembuh dengan memberikan kupon ‘bernyanyi’ sebagai hadiah untuk mama saat aku sembuh. Aku pasti sembuh.
                Ternyata dimulainya terapi melawan kanker tenggorokan adalah saat aku menyadari bahwa aku sudah menjadi zombigaret. Aku hidup, tapi ragaku telah hilang entah sejak kapan. Aku hidup, setengah mati. Tidak ada lagi Dira yang dulu. Aku menjalani radioterapi, yaitu terapi dengan penembakan laser atau radioaktif di sekitar tenggorokan. Saat terapi, rasa panas dan gatal menjalar ke daerah tenggorokanku. Usai terapi mulutku terasa kering dan gigiku rontok saat aku mengunyah makanan yang tidak terlalu keras seperti roti, tubuhku lemas dan aku merasa mual luar biasa. Setiap satu bulan dua kali aku melakukannya. Aku seperti mati.
                Disisi lain sulit sekali untuk tidak merokok. Melawan kecanduan bersamaan dengan melawan kanker tenggorokan sama dengan mati. Mati. Mati. Ya, aku sudah mati sejak lama. Aku merasa pusing, lemas, sakit yang luar biasa dan meriang tanpa asupan nikotin ke kepalaku lewat hisapan rokok. Aku tidak tahan dengan rasa kacau yang menjalar ditubuhku dan menghisap rokok sesekali tanpa sepengetahuan mama.
                Setelah setengah tahun pengobatan dengan radioaktif, dokter kembali memeriksaku. Beliau bilang kondisiku tidak membaik karena aku tidak berhenti merokok. Kankernya telah menyebar ke daerah pita suaraku sehingga harus dilakukan operasi pengambilan kotak suara dan diikuti dengan kemoterapi.
                  Mama menangis sejadinya. Aku melihat mama dengan pandangan lirih. Ma, biarkan aku mati. Karena aku telah mejadi zombigaret sejak lama. Aku tidak punya teman, temanku hanya sesama pasien kanker tenggorokan yang datang untuk radioterapi. Aku berangkat sekolah tapi di sekolah kerjaku hanya merokok. Otakku hanya bisa bekerja bila suplai nikotin mencukupi. Di sekolah semua orang memperlakukanku dengan jijik mengetahui aku mengidap kanker karena merokok. Aku tidak punya masa depan. Aku sulit makanan dan seluruh gigiku rontok sebagai efek samping radioterapi. Mama telah menghabiskan banyak uang untuk memulihkan ruhku. Sementara aku berjalan, tapi kakiku tidak menapak di atas jalan ini. Sekujur tubuhku lemas dan aku akan limbung. Esok setelah operasi dan kemoterapi. Aku akan kehilangan suara–tempat mimpiku bergantung dan rambutku akan rontok.

                Mama tetap terisak untukku sementara aku hanya memasang wajah dingin. Sejatinya, aku telah menjadi zombigaret sejak pertama kali menghisap rokok. Karena aku telah dikendalikan oleh rokok untuk terus menghisap tanpa peduli apapun. Dan malam saat aku menghisap rokok Sesa adalah hari yang paling aku sesali seumur hidup, saat dimana aku berubah menjadi zombiegaret. Seketika memoriku kembali pada kertas kuning dimana aku menulis akan menyanyikan lagu bunda untuk mama, janjiku untuk sembuh dan bisa menyanyi lagi. Apa daya, aku telah menjadi zombigaret. Perlahan air mataku menetes.

Kata mereka diriku, selalu di manja.. Kata mereka diriku, selalu ditimang..

-----
Cerita ini diikutsertakan dalam Lomba blog diary zombiegaret 2014 | Originally mine
and this story dedicated to all young ppl who still in love with the ciggaretes. 
Sincerely, a pharmacist wanna be -Karima-